saya sangat suka menonton televisi (tv). dulu saat orang tua saya belum mampu membeli tv, saya selalu numpang nonton tv di rumah tetangga. sampai suatu hari saya disuruh pulang dengan alasan anaknya mau tidur siang. saya pun pulang ke rumah, tapi seusai pintu rumah ditutup saya mendengar suara tv yang dinyalakan kembali. alhasil saya kembali menonton dari jendela rumah tetangga saya. ayah saya yang pulang dari kantor mendapati saya sedang memanjat jendela tetangga saya dan melongok ke arah rumah tetangga, ayah saya bertanya "ngapain nak ??", saya (yang masih berusia 6 tahun) menjawab "nonton tv". ayah saya langsung paham bahwa saya tidak dibolehkan menonton di dalam rumah oleh si empunya tv.
esoknya ayah saya pulang cepat, membawa kotak besar. ternyata ayah saya membeli tv berwarna 21"...saya girang bukan kepalang walau merk tv tersebut lebih mirip racun serangga daripada merk barang elektronik. asal kotak itu bisa mengeluarkan gambar dan suara, semua hal itu sudah sangat ajaib bagi saya. masa kuliah adalah masa yg sangat saya tunggu. bagai gadis tak sabar dipinang, saya sangat mendambakan saat itu datang. karena ayah saya menjanjikan kalo sudah kuliah saya boleh nonton sampai jam 11 malam (umur 6-14 tahun saya hanya boleh menonton sampai jam 7.30 malam, umur 15-17 saya hanya boleh menonton sampai jam 10 malam). masa kuliah pun datang, ternyata saya kuliah di jogja dan tidak punya tv di kosan. saya merasa terkhianati dan penantian saya sia-sia.
sampai saat ini saya masih sangat menyukai kotak ajaib itu. ayah saya masih saja heran melihat tingkah polah anaknya yang betah berjam-jam di depan tv. tak peduli kurs rupiah saat itu, siapa presidennya, atau apakah nazaruddin sudah pulang ke indonesia atau belum, saya setia memandangi kotak ajaib tersebut. mengangis saat disuruh, tertawa saat dibujuk dan marah saat ditipu. saya menurut saja bagai kerbau dicucuk hidungnya. padahal saya tahu betul sebagian besar tayangan kotak ajaib itu hanya tipu daya belaka. ibu saya sangat geram jika saya nonton tv, karena jika disuruh melakukan suatu hal, pandangan saya tidak akan beralih dari tv. sampai-sampai ibu saya menganggap saya akan memilih nonton iklan daripada disuruh menyapu rumah.
sekarang saya sudah akan tamat kuliah, hal ini berarti saya akan kembali ke rumah dan akan mengalami perjumpaan manis dengan kotak ajaib itu. bedanya kini kotak itu tidak lagi kotak 21" dengan merk racun serangga. kini kotak ajaib itu makin ajaib karena sangat tipis dan berukuran 2 kali pendahulunya. ayah saya membelinya dari pengumpul benda-benda sihir. kotak ajaib saya yang sekarang adalah maha karya guru dari negeri ginseng.
saya sudah sangat tergantung dengan kotak ajaib itu, saya pernah mencoba tidak menonton tv sebanyak 3 kali. dari 3 kali usaha, paling lama saya hanya bertahan selama 48 menit. menyadari ketergantungan ini saya memutuskan :
SAYA TIDAK AKAN MENGIZINKAN ANAK SAYA MENONTON TV SAMPAI USIANYA 14 TAHUN
berarti saya juga akan berpisah dengan kotak ajaib saya selama itu
masih ada beberapa tahun untuk berlatih
rekor terbaru saya adalah 1 jam 18 menit
Sabtu, 06 Agustus 2011
Jumat, 05 Agustus 2011
(apa) SAYA ALAY ???
beberapa saat yg lalu adik saya mengirim link menuju blognya, tiba2 ingatan saya melayang pada blog saya sendiri...bagaimanakah kabarnya ??
blog ini saya buat beberapa tahun yang lalu. dibuat dengan sangat tergesa-gesa dan seadanya. hanya agar saya tidak dipandang cupu, karena tidak punya blog.
ketika saya membuka lagi blog ini, gelak tawa saya pecah di malam hari (untung tidak dikira tawa makhluk halus)...betapa cupu blog yang saya buat saat saya berusaha keras tidak cupu.
saya yakin kalo ada orang2 yang saya kenal (terutama di kampus), membaca blog saya, gambaran "cool" (uhukk...uhukk ) yang saya bangun bertahun2 di kampus akan runtuh seketika.
saat ini saya sedang sebal dengan anak alay (entahlah apa artinya). anak2 yang memasang foto manyun namun (sok) menggemaskan di jejaring sosial mereka, anak2 yang sms dengan huruf kapital, huruf kecil dan angka sekaligus, anak2 yang memakai kaca mata hitam di malam hari, anak2 yang memakai kawat gigi namun tak tonggos dan anak2 lain yang bertindak tanpa alasan yang memadai bagi saya.
saat melihat blog saya, saya melihat gambaran anak alay.
ya, saya anak alay, tidak lebih tidak kurang...
sadar bahwa ke-alay-an (saya mulai suka istilah ini) adalah fase yang dihadapkan saat kita tumbuh secara psikis. fase tersebut hadir sebagai pilihan, berubah variasinya dari masa ke masa. setiap generasi punya standar alay tersendiri, dan tak perlu dipertentangkan.
diakui atau tidak, saya pun pernah mengambil pilihan untuk menjadi anak alay.....
saya yang sekarang ???
entah apa pandangan orang beda generasi....
yang pasti tetap ada standar alay (setidaknya menurut saya)....
jangan sampai ke'alay'an menyakiti diri anda, menyakiti orang2 yang menyayangi anda dan orang2 lain disekitar anda....
karena kalo itu sampai terjadi, kita bukan lagi anak alay....tapi ANAK BRENGSEK
ps : saya tidak tahu cara menghilangkan foto saya yg berukuran A10 di blog ini...tolong saya diajari ya blogger2 yang baik....
blog ini saya buat beberapa tahun yang lalu. dibuat dengan sangat tergesa-gesa dan seadanya. hanya agar saya tidak dipandang cupu, karena tidak punya blog.
ketika saya membuka lagi blog ini, gelak tawa saya pecah di malam hari (untung tidak dikira tawa makhluk halus)...betapa cupu blog yang saya buat saat saya berusaha keras tidak cupu.
saya yakin kalo ada orang2 yang saya kenal (terutama di kampus), membaca blog saya, gambaran "cool" (uhukk...uhukk ) yang saya bangun bertahun2 di kampus akan runtuh seketika.
saat ini saya sedang sebal dengan anak alay (entahlah apa artinya). anak2 yang memasang foto manyun namun (sok) menggemaskan di jejaring sosial mereka, anak2 yang sms dengan huruf kapital, huruf kecil dan angka sekaligus, anak2 yang memakai kaca mata hitam di malam hari, anak2 yang memakai kawat gigi namun tak tonggos dan anak2 lain yang bertindak tanpa alasan yang memadai bagi saya.
saat melihat blog saya, saya melihat gambaran anak alay.
ya, saya anak alay, tidak lebih tidak kurang...
sadar bahwa ke-alay-an (saya mulai suka istilah ini) adalah fase yang dihadapkan saat kita tumbuh secara psikis. fase tersebut hadir sebagai pilihan, berubah variasinya dari masa ke masa. setiap generasi punya standar alay tersendiri, dan tak perlu dipertentangkan.
diakui atau tidak, saya pun pernah mengambil pilihan untuk menjadi anak alay.....
saya yang sekarang ???
entah apa pandangan orang beda generasi....
yang pasti tetap ada standar alay (setidaknya menurut saya)....
jangan sampai ke'alay'an menyakiti diri anda, menyakiti orang2 yang menyayangi anda dan orang2 lain disekitar anda....
karena kalo itu sampai terjadi, kita bukan lagi anak alay....tapi ANAK BRENGSEK
ps : saya tidak tahu cara menghilangkan foto saya yg berukuran A10 di blog ini...tolong saya diajari ya blogger2 yang baik....
Langganan:
Komentar (Atom)